SURABAYA – Perjalanan menjadi entrepreneur tidak selalu dimulai dari perusahaan besar atau ide bisnis yang langsung berhasil. Bagi Reza Nafi Rizqi Musyaffa, yang akrab disapa Afa, ketertarikan terhadap dunia bisnis telah tumbuh sejak duduk di bangku sekolah dasar. Dari berjualan mainan, mencoba bisnis gadget dan sepatu, menjalankan jasa joki game serta agency, hingga mengelola bisnis alat kesehatan dan mengembangkan produk digital, perjalanan kewirausahaannya diwarnai berbagai eksperimen lintas industri.
Afa merupakan mahasiswa S1 Manajemen angkatan 2023, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Airlangga (UNAIR). Di tengah aktivitas akademiknya, ia mengembangkan bisnis produk digital yang berfokus pada kebutuhan mahasiswa, sekaligus membangun MabaPath, sebuah startup pendidikan yang bergerak dalam pendampingan dan pengembangan mahasiswa.
Perjalanannya memperlihatkan bagaimana minat terhadap bisnis dapat berkembang melalui berbagai pengalaman. Tidak semua usaha yang dicoba berhasil, tetapi setiap fase memberikan kesempatan untuk mengenal karakteristik pasar, memahami kebutuhan konsumen, dan mengevaluasi model bisnis yang dijalankan.
Memulai Perjalanan Bisnis Sejak Sekolah Dasar
Ketertarikan Afa terhadap kewirausahaan sudah terlihat sejak masa sekolah dasar. Pada periode tersebut, ia pernah berjualan mainan. Pengalaman ini menjadi salah satu titik awal perjalanannya dalam mencoba aktivitas jual beli sejak usia dini.
Memasuki sekolah menengah pertama (SMP), eksplorasi bisnisnya berkembang ke kategori produk yang berbeda. Afa pernah berjualan gadget dan sepatu. Kedua kategori tersebut memiliki karakteristik pasar dan pertimbangan konsumen yang berbeda, sehingga memberikan pengalaman awal dalam memahami aktivitas perdagangan.
Pada tahap ini, perjalanan bisnisnya masih berada dalam bentuk eksplorasi. Ia mencoba berbagai jenis produk dan mengenal proses menawarkan barang kepada calon pembeli. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses awal membangun ketertarikan terhadap dunia usaha.
Memulai bisnis pada usia sekolah tentu berbeda dari mengelola perusahaan secara profesional. Namun, pengalaman mencoba menjual produk dapat menjadi ruang untuk mengenal konsep dasar perdagangan, mulai dari memahami barang yang ditawarkan hingga berinteraksi dengan konsumen.
Bagi Afa, aktivitas bisnis tidak baru muncul setelah memasuki perguruan tinggi. Ketertarikan tersebut telah berkembang melalui berbagai percobaan sejak masa sekolah.
Dari Jualan Produk ke Bisnis Berbasis Jasa saat SMA
Ketika memasuki sekolah menengah atas (SMA), Afa kembali mengeksplorasi model bisnis yang berbeda. Ia pernah menjalankan jasa joki game dan agency.
Berbeda dari bisnis yang berfokus pada penjualan barang fisik, bisnis berbasis jasa memiliki karakteristik tersendiri. Nilai yang ditawarkan tidak hanya terletak pada produk, tetapi juga pada layanan, kemampuan pelaksana, dan hasil yang diharapkan pelanggan.
Peralihan dari penjualan barang menuju jasa memperluas jenis usaha yang pernah dicoba Afa. Ia tidak hanya mengeksplorasi perdagangan produk, tetapi juga model bisnis yang mengandalkan layanan.
Perjalanan lintas model bisnis tersebut menjadi bagian dari proses mengenali peluang usaha. Setiap kategori memiliki kebutuhan operasional, target konsumen, dan pendekatan pemasaran yang berbeda. Karena itu, pengalaman menjalankan satu jenis usaha tidak selalu dapat diterapkan secara langsung pada jenis usaha lainnya.
Meski demikian, mencoba berbagai model bisnis dapat membantu calon entrepreneur memahami bahwa sebuah usaha perlu dibangun berdasarkan karakteristik produk, kebutuhan pasar, serta kemampuan pengelolanya.
Mengembangkan Bisnis Alat Kesehatan dan Perlengkapan Industri
Selain bisnis yang pernah dijalankan sejak sekolah, Afa juga memiliki pengalaman mengelola RiaShop Official, bisnis yang bergerak dalam penyediaan alat kesehatan dasar dan perlengkapan industri.
Bisnis ini memiliki karakteristik yang berbeda dari produk konsumen seperti mainan, gadget, dan sepatu. Penyediaan alat kesehatan serta perlengkapan industri berkaitan dengan kebutuhan produk yang lebih spesifik, sehingga pemahaman terhadap jenis barang dan kebutuhan pembeli menjadi bagian penting dalam kegiatan usaha.
Pengalaman di sektor tersebut memperluas cakupan perjalanan bisnis Afa ke kategori produk yang berbeda. Dari perdagangan barang yang dekat dengan konsumen umum hingga penyediaan perlengkapan untuk kebutuhan yang lebih khusus, ia mengeksplorasi beragam bentuk aktivitas kewirausahaan.
Perbedaan tersebut juga menunjukkan bahwa bisnis tidak memiliki satu model operasional yang berlaku untuk semua kategori. Setiap usaha membutuhkan pemahaman tersendiri terhadap produk, pelanggan, distribusi, dan proses penjualan.
Bagi entrepreneur muda, pengalaman lintas kategori dapat menjadi sumber pembelajaran selama setiap usaha dievaluasi berdasarkan hasil dan kebutuhan pasar yang sebenarnya.
Lima Kali Gagal Bisnis dan Proses Menemukan Arah
Di balik berbagai pengalaman tersebut, perjalanan kewirausahaan Afa tidak selalu berjalan mulus. Ia mengaku telah mengalami lima kali kegagalan bisnis sebelum mengembangkan bisnis produk digital yang menjadi salah satu fokusnya saat ini.
Kegagalan dalam bisnis dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti ketidaksesuaian produk dengan kebutuhan konsumen, strategi pemasaran yang kurang tepat, atau model usaha yang belum menemukan bentuk yang berkelanjutan. Namun, penyebab setiap kegagalan perlu dilihat berdasarkan kondisi usaha masing-masing.
Dalam perjalanan seorang entrepreneur, pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memahami asumsi mana yang perlu diuji kembali dan keputusan apa yang perlu diperbaiki. Tidak semua ide harus dipertahankan, dan tidak semua model bisnis cocok untuk setiap pengusaha.
Pengalaman Afa mencoba berbagai usaha sejak sekolah memberikan konteks pada perjalanan tersebut. Ia telah mengeksplorasi penjualan produk fisik, bisnis berbasis jasa, hingga usaha dengan kategori produk yang lebih khusus sebelum mengembangkan produk digital.
Perjalanan ini bukan berarti kegagalan secara otomatis akan menghasilkan keberhasilan. Sebaliknya, proses evaluasi, kemampuan membaca kebutuhan pasar, dan kesediaan menyesuaikan strategi menjadi aspek penting dalam menentukan langkah selanjutnya.
Menemukan Peluang di Bisnis Produk Digital
Dalam perkembangan berikutnya, Afa mengembangkan produk digital berupa e-book dan modul edukasi. Berbeda dari beberapa usaha sebelumnya yang berkaitan dengan barang fisik atau layanan, produk digital memungkinkan materi disusun dan didistribusikan secara daring.
Fokus produknya berkaitan dengan kebutuhan mahasiswa, mulai dari persiapan beasiswa, bank pertanyaan wawancara, latihan UKBI, pengembangan ide bisnis, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendukung kegiatan akademik dan produktivitas.
Hingga saat ini, Afa telah mengembangkan lebih dari 30 e-book dan modul edukasi. Materi tersebut dirancang untuk membantu mahasiswa mempelajari topik tertentu secara lebih terstruktur dan dapat digunakan sebagai referensi belajar mandiri.
Salah satu aspek penting dalam pengembangan produk digital adalah menemukan kebutuhan yang cukup spesifik. Mahasiswa yang sedang mempersiapkan wawancara beasiswa, misalnya, membutuhkan materi latihan yang berbeda dari mahasiswa yang sedang menyusun proposal kompetisi bisnis.
Dengan memahami perbedaan kebutuhan tersebut, pengembang dapat menentukan topik, struktur, dan manfaat produk yang lebih relevan bagi calon pengguna.
Meski distribusi digital memungkinkan produk diakses secara daring, bisnis ini tetap membutuhkan riset pasar, pengembangan materi, pemasaran, dan evaluasi kualitas. Produk digital yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada banyaknya materi yang dibuat, tetapi juga pada relevansi dan manfaatnya bagi konsumen.
Menghubungkan Konten Edukasi dengan Produk Digital
Selain mengembangkan modul, Afa aktif membangun personal branding melalui akun Instagram @afa_rm dengan lebih dari 13.000 pengikut. Kontennya berfokus pada beasiswa, kompetisi, organisasi, kepemimpinan, student exchange, personal branding, dan pengembangan diri.
Aktivitas sebagai kreator konten menjadi bagian dari ekosistem bisnis digital yang dikembangkannya. Melalui konten, audiens dapat memperoleh informasi awal mengenai suatu topik, sedangkan produk digital menyediakan materi yang lebih mendalam untuk kebutuhan tertentu.
Dalam model ini, konten dan produk memiliki fungsi yang saling melengkapi. Konten membantu menjangkau audiens dan membangun komunikasi, sementara produk berbayar menawarkan materi yang disusun lebih sistematis.
Namun, membangun audiens tidak otomatis menjamin penjualan. Pengembang bisnis tetap perlu memahami kebutuhan konsumen, menjelaskan manfaat produk secara jelas, dan menjaga kualitas materi yang ditawarkan.
Perpaduan antara konten edukasi dan produk digital tersebut menjadi salah satu pendekatan yang dieksplorasi Afa dalam membangun bisnis berbasis pengetahuan.
Mengembangkan MabaPath sebagai Startup Pendidikan
Selain bisnis produk digital, Afa mendirikan MabaPath, startup pendidikan yang berfokus pada pendampingan dan pengembangan mahasiswa. Cakupannya meliputi beasiswa, kompetisi, organisasi, kepemimpinan, student exchange, personal branding, dan pengembangan karier.
MabaPath dikembangkan untuk menjangkau kebutuhan mahasiswa yang ingin memanfaatkan masa kuliah secara lebih terarah. Melalui pendekatan tersebut, pengembangan diri tidak hanya dipandang sebagai proses mencari informasi, tetapi juga sebagai upaya mempersiapkan kompetensi dan mengeksplorasi berbagai peluang.
Pengembangan startup memiliki tantangan yang berbeda dari penjualan satu produk digital. Selain memahami kebutuhan pengguna, pengelola perlu mempertimbangkan operasional, pengembangan layanan, koordinasi tim, dan keberlanjutan bisnis.
Pengalaman Afa dalam mengembangkan berbagai jenis usaha menjadi bagian dari prosesnya mengeksplorasi model kewirausahaan yang berbeda. Produk digital berfokus pada materi pembelajaran, sedangkan MabaPath memiliki cakupan yang lebih luas dalam pengembangan mahasiswa.
Kewirausahaan sebagai Proses Belajar Berkelanjutan
Perjalanan Afa dari berjualan mainan saat SD, gadget dan sepatu saat SMP, menjalankan jasa joki game serta agency saat SMA, hingga mengembangkan bisnis alat kesehatan dan produk digital menunjukkan bahwa pengalaman kewirausahaan dapat berkembang melalui berbagai tahap.
Setiap usaha memiliki karakteristik dan tantangan tersendiri. Karena itu, pelajaran yang diperoleh dari satu bisnis perlu disesuaikan ketika diterapkan pada bisnis lainnya. Memahami konsumen produk fisik, misalnya, tidak sepenuhnya sama dengan memahami kebutuhan pengguna produk digital.
Bagi generasi muda yang ingin memulai usaha, perjalanan tersebut dapat menjadi pengingat bahwa membangun bisnis membutuhkan proses eksperimen dan evaluasi. Memulai usaha merupakan satu tahap, sedangkan memahami pasar, mengelola operasional, dan menjaga keberlanjutan membutuhkan upaya yang berbeda.
Sebagai mahasiswa Manajemen Universitas Airlangga, Afa terus menjalani aktivitas akademik bersamaan dengan pengembangan bisnis dan konten edukasi. Ia juga memiliki pengalaman organisasi sebagai founder dan presiden pertama 180 Degrees Consulting UNAIR serta pernah menjadi Market Research Manager di AIESEC in Surabaya.
Melalui perjalanan tersebut, Afa mengeksplorasi kewirausahaan dari berbagai sisi, mulai dari perdagangan barang dan jasa hingga produk digital berbasis pengetahuan. Perjalanannya memperlihatkan bahwa membangun bisnis bukan semata-mata tentang menemukan ide yang langsung berhasil, melainkan tentang memahami kebutuhan pasar, mengevaluasi keputusan, dan terus mencari model usaha yang sesuai.