MEDAN – Harga beras di sejumlah wilayah Kota Medan dan Kabupaten Deliserdang masih menunjukkan tren kenaikan. Kondisi tersebut tidak hanya membuat pengeluaran rumah tangga bertambah, tetapi juga mulai dirasakan langsung oleh pedagang beras hingga pelaku usaha makanan.
Berdasarkan pantauan di sejumlah titik penjualan pada Agustus 2026, kenaikan harga beras sudah berlangsung selama beberapa bulan. Pedagang menyebut perubahan harga mulai terasa sejak sekitar Maret dan terus berlanjut hingga Agustus.
Kondisi yang paling mendapat perhatian adalah beras jenis premium. Selain mengalami kenaikan harga cukup tinggi, stok beras premium juga disebut mulai sulit ditemukan di beberapa warung dan swalayan.
Harga Beras Premium Naik Paling Tinggi
Salah satu pedagang beras di kawasan Jalan Marindal, Kecamatan Patumbak, Deliserdang, menyebut harga beras umum atau sosoh kini berada di kisaran Rp150 ribu per 10 kilogram.
Sebelumnya, beras dengan ukuran yang sama masih dapat diperoleh sekitar Rp142 ribu. Artinya, terjadi kenaikan sekitar Rp8 ribu dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan lebih terasa pada beras premium. Harga beras premium yang sebelumnya sekitar Rp150 ribu per 10 kilogram, kini mencapai kurang lebih Rp187 ribu.
Perubahan harga tersebut tentu cukup terasa bagi masyarakat, terutama keluarga yang menjadikan beras sebagai kebutuhan pokok sehari-hari.
Tidak hanya persoalan harga, ketersediaan beras premium juga menjadi perhatian. Beberapa pedagang dan swalayan disebut tidak selalu memiliki stok yang cukup sehingga konsumen harus mencari ke tempat lain.
Bagi kamu yang setiap hari membutuhkan beras untuk kebutuhan rumah tangga, kondisi seperti ini tentu membuat pengeluaran bulanan perlu disesuaikan kembali.
Pasokan dari Kilang Mulai Sulit Didapat
Pedagang menduga kenaikan harga tidak terlepas dari kondisi produksi dan distribusi gabah di sejumlah daerah.
Beberapa wilayah sentra produksi disebut mengalami gangguan akibat banjir dan cuaca buruk dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut berdampak terhadap lahan pertanian dan hasil panen.
Helen Lumbantoru, salah seorang pedagang beras di kawasan Marindal, mengatakan kondisi tersebut ikut memengaruhi ketersediaan gabah.
Menurutnya, sejumlah wilayah seperti Aceh, Sumatera Selatan, dan Tapanuli mengalami persoalan pada lahan pertanian. Ketika produksi terganggu, pasokan gabah ke kilang ikut berkurang dan akhirnya berpengaruh terhadap stok beras yang masuk ke pasaran.
“Penyebabnya mungkin terjadi efek karena bencana kemarin. Karena kita lihat di Aceh, Sumsel, dan Tapanuli itu sawah pada rusak semua, mungkin itu imbasnya,” ujar Helen.
Ia juga menyebut curah hujan yang tinggi menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi hasil pertanian. Kondisi tersebut membuat periode panen tidak berjalan seperti yang diharapkan.
Pedagang Harus Berebut Stok
Persoalan lain yang dihadapi pedagang adalah mendapatkan pasokan dari kilang. Ketika ketersediaan gabah terbatas, pedagang harus bergerak cepat agar mendapatkan stok.
Helen mengatakan pemesanan beras dari kilang kini membutuhkan perhatian lebih. Pedagang tidak bisa terlalu lama menunda pemesanan karena stok yang tersedia cepat terserap.
“Untuk pasokan sendiri kita harus war. Kalau mau pemesanan atau order langsung dari kilang kita harus cepat-cepat supaya kita kebagian karena orang kilang bilang gabah lagi susah,” katanya.
Kondisi tersebut membuat pedagang berada dalam posisi yang cukup sulit. Di satu sisi, mereka harus menjaga ketersediaan barang bagi pelanggan. Namun di sisi lain, harga dari pemasok juga mengalami perubahan.
Jika harga pembelian naik, pedagang tentu harus menyesuaikan harga jual agar usaha tetap dapat berjalan.
Pedagang Makanan Ikut Terkena Dampak
Kenaikan harga beras ternyata tidak hanya dirasakan oleh penjual beras. Pelaku usaha makanan juga ikut merasakan tekanan karena beras merupakan salah satu bahan utama dalam kegiatan usaha mereka.
Olin, seorang pedagang makanan, mengaku harga beras yang digunakannya mengalami kenaikan. Jika sebelumnya harga beras berada di sekitar Rp16 ribu per kilogram, kini harganya sudah mencapai Rp17 ribu per kilogram.
Kenaikan biaya bahan baku tersebut akhirnya berpengaruh terhadap harga makanan yang dijual kepada konsumen.
“Satu porsinya naik seribu. Biasanya Rp18 ribu, sekarang Rp19 ribu,” ujar Olin.
Bagi pedagang makanan, kenaikan sebesar Rp1.000 per porsi mungkin terlihat kecil. Namun jika dihitung berdasarkan jumlah porsi yang terjual setiap hari, tambahan biaya tersebut dapat menjadi beban tersendiri bagi pelaku usaha.
Pedagang juga harus mempertimbangkan daya beli pelanggan. Menaikkan harga terlalu tinggi berisiko membuat konsumen mengurangi pembelian, sementara mempertahankan harga lama dapat menekan keuntungan.
Warga Berharap Harga Segera Stabil
Kondisi harga beras yang belum stabil membuat masyarakat berharap ada langkah konkret untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan tersebut.
Beras merupakan kebutuhan pokok yang sulit dikurangi konsumsinya. Karena itu, perubahan harga dalam jumlah cukup besar dapat memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran keluarga.
Tidak hanya konsumen rumah tangga, pelaku usaha kecil seperti warung makan dan pedagang nasi juga membutuhkan kepastian harga agar dapat menentukan harga jual tanpa terlalu membebani pelanggan.
Pemerintah diharapkan dapat memantau perkembangan harga sekaligus memastikan distribusi beras berjalan lancar. Ketersediaan stok di tingkat pedagang juga menjadi hal penting agar kenaikan harga tidak semakin meluas.
Di sisi lain, kondisi produksi di daerah sentra pertanian juga perlu mendapat perhatian. Gangguan cuaca dan bencana yang berdampak terhadap sawah pada akhirnya dapat memengaruhi rantai pasok hingga ke pasar di Medan dan Deliserdang.
Jika pasokan kembali normal dan distribusi berjalan lancar, masyarakat tentu berharap harga beras dapat berangsur turun atau setidaknya kembali stabil.
Untuk sementara, kamu sebagai konsumen bisa membandingkan harga di beberapa tempat sebelum membeli dan menyesuaikan pembelian dengan kebutuhan. Sementara bagi pedagang, kestabilan pasokan menjadi kunci agar harga jual tidak terus mengalami perubahan.
Sumber: Orbitdigitaldaily.com